Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Monday, 28 May 2018

Menata Hati di Bulan yang Suci

"Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati tak ada yang tahu" kalimat ini sangat lazim kita dengar untuk menggambarkan bahwa kita tidak dapat menebak isi hati seseorang. Akan tetapi, kita juga tidak jarang mendengar orang mengatakan bahwa, apa yang ada dalam hati akan tergambar lewat sikap dan perbuatan. Ya, ini benar adanya. Jika hati dipenuhi dengan kebaikan, maka perbuatan akan senantiasa mengiringi. Akan tetapi, saat di dalam hati ada benih-benih penyakit, maka bisa dipastikan sikap pemiliknya tidak akan menyenangkan. Bisa jadi ada orang yang berbuat tidak sesuai dengan isi hatinya, untuk mendapatkan kesan baik dari orang lain misalnya. Tapi ini tidak akan bertahan lama. Seiring waktu, semua akan terbuka dengan sendirinya.

Photo by Instagram Dorkas Mandowe

Saya termasuk orang yang jarang mengungkapkan isi hati. Ketika ada hal yang tidak menyenangkan, lebih sering diam. Menyimpan sendiri perasaan itu tanpa menyampaikan pada orang lain. Meski tidak dipungkiri, lama kelamaan akan melahirkan perasaan tidak enak di hati. Bahkan sangat berpotensi untuk melahirkan penyakit hati. 

Hingga suatu hari, saya mengikuti sebuah kajian yang membahas tentang manajemen perasaan. Materi disampaikan oleh seorang ibu muda, ia menyampaikan tentang pentingnya menyampaikan isi hati. Jika ada yang mengganjal dalam perasaan, sampaikanlah dengan kata yang santun. Cari kalimat yang pas dan baik untuk mengungkapkan sehingga tidak terus dipendam. Sebab jika terus dibiarkan, akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Tentu akibatnya akan buruk

Ya, manajemen hati memang sangat penting. Bukan hanya menjaga hubungan baik dengan orang lain, tapi memberikan kesehatan pada jiwa dan fisik.

Nah, momen Ramadhan ini bisa dijadikan sebagai waktu untuk latihan menata hati. Sebab puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tapi juga melawan hawa nafsu. Salah satu dampak jika kita menuruti hawa nafsu adalah lahirnya berbagai prasangka buruk dalam hati.

Lalu bagaimana kota menata kata yang baik untuk menyampaikan isi hati agar tidak tersimpan dan menjadi prasangka? Seringkali kejengkelan akan membuat kita sulit menata kalimat, sehingga apa yang disampaikan terkesan ceplos-ceplos dan menyakiti pendengarnya. 

Salah satu yang disampaikan oleh ibu muda dalam kajian yang saya ikuti adalah berusaha memposisikan diri sebagai pendengar. Senangkah kita mendengar perkataan kasar dari orang lain? Tentu saja tidak. Maka berlatihlah menyampaikan sesuatu dengan baik, sebagaimana kita juga senang dengan sebuah kebaikan. Kedua, belajar menahan diri untuk tidak berprasangka. Inilah yang sedang kita latih selama berpuasa. Banyak berzikir dan mendekat kepada Allah. Jangan merasa diri lebih baik dari orang lain dan rajin-rajinlah mengintrospeksi diri.

Selamat menjalankan ibadah puasa dan melatih diri berprasangka baik 😊

Friday, 27 April 2018

Tips Menembus Penerbit Mayor

Assalamu'alaikum, para pembaca. Lama tidak menulis di blog, bukan karena malas apalagi berhenti nulis. Hanya manage waktu yang kurang tepat sehingga tidak semua bisa dikerjakan. Maafkan, ya.

Alhamdulillah, setelah serius meluangkan waktu dua tahun ini untuk menulis, saya berhasil menyelesaikan satu naskah buku solo. Akhirnya, hehehe. Alhamdulillah juga berhasil menembus penembus mayor dan sudah beredar di toko buku sejak bulan Maret lalu.

Mantapkan Move on-mu Bersama Allah

Nah, kali ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana caranya agar naskah yang kita buat bisa diterima dan diterbitkan oleh penerbit mayor.
Simak ya 😊

1. Ide tulisan yang menjual dan bahasa menarik

Ini wajib menurut saya. Kenapa? Karena untuk menerbitkan sebuah buku, penerbit butuh modal. Kalau sebuah tulisan dianggap tidak punya nilai jual, tidak mungkin diterbitkan.

Lalu bagaimana cara menemukan ide tulisan yang menjual? Kita perlu survei, entah dengan membaca atau pun melihat lingkungan sekitar. Tulis tema yang menjadi kebutuhan banyak orang.

Pada saat menulis, gunakan bahasa yang baik dan benar, juga menarik. Kenapa harus menarik? Karena orang Indonesia itu malas membaca, kalau disuguhkan tulisan dengan bahasa bertele-tele dan sulit dipahami, kemungkinan tidak akan dibaca.

2. Cari tahu tentang penerbit yang dituju

Sebagai penulis, kita harus aktif mencari penerbit yang cocok dengan naskah yang ditulis. Bisa jadi tulisan kita bagus dan layak jual, tapi dikirim ke penerbit yang tidak tepat, makanya ditolak.

Lalu bagaimana cara mengetahui tulisan kita cocoknya dengan penerbit mana? Tentu saja dengan membaca, bisa juga  bertanya. Setiap buku akan mencatumkan nama penerbit di cover. Nah, dengan sering membaca kita bisa tahu penerbit A atau B menerbitkan tulisan seperti apa.

Sebenarnya jaman now kita sudah diberi kemudahan dengan adanya internet. Tinggal ketik di google, kita sudah bisa menemukan banyak penerbit lengkap dengan penjelasan mengenai tipe naskah yang mereka butuhkan. Jadi rajin-rajinlah membaca dan berselancar di dunia maya untuk mencari referensi (bukan kepoin akun mantan, ya 🙊)

3. Branding penulis

Ini berkaitan dengan poin nomor 1, sebab tidak bisa dipungkiri bahwa penerbit adalah sebuah perusahaan yang menjalankan bisnis. Orang yang sudah punya nama, atau dikenal banyak orang tentu lebih mudah menerbitkan karyanya di penerbit mayor. Contoh Ibuknya kirana yang justru ditawari nulis oleh editor 😍😍. Tapi kalau kita belum jadi orang terkenal, jangan berkecil hati. Buatlah tulisan yang baik dan jangan berhenti belajar. Sambil branding diri juga.

Salah satu cara branding yang mudah adalah dengan share tulisan yang baik di media sosial. Jangan yang dishare cuma status galau hehehe

4. Berani kirim naskah

Nah, ini juga poin penting. Kalau naskahnya tidak dikirim gimana mau diterbitkan hehe. Beberapa orang tidak berani mengirim naskah ke penerbit mayor, alasannya takut ditolak. Saya sih pede aja, namanya juga usaha. Kalau belum mencoba, kita tak pernah tahu hasilnya seperti apa.

Sebelum memutuskan kirim ke penerbit, pastikan naskah kita benar-benar sudah jadi. Sudah dibaca berulang dan tidak ada kesalahan pengetikan atau bahasa yang masih amburadul. Jangan sampai karena ingin cepat, kita mengirim naskah asal-asalan. Bisa-bisa dicap jelek sama penerbit.
Buatlah naskah yang baik dan rapi, insya Allah akan berjodoh dengan penerbit.

5. Berikan pengantar saat kirim naskah

Saya pernah melihat postingan seorang editor yang mengomentari email naskah tanpa embel-embel, tidak ada pengantar sama sekali. Menurut sang editor, itu hal yang buruk. Jadi ini penting untuk kita perhatikan, buatlah pengantar yang baik saat kirim naskah ke penerbit.

Kalau menurut saya ini ibarat bertamu, kita kalau mau masuk ke rumah orang harus permisi dulu. Apalagi kalau belum kenal, harus perkenalkan diri dan tujuan kita datang itu apa. Jangan main masuk aja dan taroh barang di meja. Bisa jadi yang punya rumah tidak lihat, kalau pun lihat mungkin diabaikan.

6. Doa

Kalau naskahnya sudah dikirim, berarti kita sudah berusaha maksimal. Sekarang saatnya banyakin doa. Semoga editor yang terima naskah kita merasa tertarik. Minta doa sama orang lain sebanyak-banyaknya. Terutama orangtua dan pasangan halal (bagi yang sudah punya, ya. Jangan sampai belum halal tapi dihalal-halalin 🙊🙊)

Ok, itu dulu sharing dari saya. Semoga bermanfaat. ❤️

Bagi yang mau diskusi silakan di kolom komentar, ya

Wednesday, 14 February 2018

Mati Hanya Menunggu Antrian

Hari ini, ba'da subuh, saya mendengar pengumuman yang disampaikan oleh pengurus masjid dekat rumah. Dekat rumah kontrakan lebih tepatnya, karena saya belum punya rumah pribadi. :-)

Isi pengumuman tentang berita duka. Suara yang disampaikan dengan mikropon terdengar jelas menyebutkan identitas si Mayit. Dikabarkan bahwa yang meninggal seorang wanita. Usianya lebih dari enam puluh tahun, "sudah lanjut usia." Pikirku seraya saat itu.

Beberapa jam kemudian, sekitar jam 9 pagi, saat saya tengah menikmati sarapan. Petugas masjid kembali menyampaikan berita yang sama. Kali ini yang meninggal usianya masih lebih muda. Saat itu saya sarapan dengan seorang teman. Saya lalu berucap,

"Tadi pagi ada pengumuman orang meninggal juga"

Teman saya menimpali, "kan dalam sehari tidak hanya satu orang yang meninggal"

Iya, benar sekali ucapan teman saya itu. Sejanak saya memohon ampunan kepada Allah sebelum lanjut makan.

Umur memang tidak menjadi patokan untuk seseorang dijemput Malaikat maut. Jika waktu yang ditentukan sudah tiba, seorang bayi yang baru lahir pun, nyawanya bia dicabut seketika. Tak ada yang bisa menunda atau memperceparnya walau hanya sedetik.

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati...." (Q.S al-Imran:185)

Sebagai manusia kita wajib mempersiapkan diri untuk mengahadapi kematian ini, satu hal yang tidak mungkin kita hindari. Waktu kita hanya sementara, dan di dunia ini kita tidak abadi. Bagaimanapun hebatnya seorang manusia, tidak akan bisa menghindari intaian Malaikat maut. Di manapun kita berada, tak akan menjadi halangan baginya untuk melaksanakan tugas dari Pemilik kehidupan ini.

Jangan sampai kita terlalu banyak membuang waktu untuk hal yang sia-sia, sedangkan bekal untuk pulang belum disiapkan dengan baik. Harusnya kita menjadikan setiap kegiatan bernilai ibadah di sisi Allah, sehingga menjadi pemberat amal pada hari penghisaban.

Dalam pekerjaan, jadikan sikap amanah dan jujur sebagai kebiasaan. Sebab ini adalah contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW. manusia terbaik sepanjang zaman. Dengan meneladani sifat dan kebiasaan Beliau, tentu akan tercatat sebagai amal ibadah.

Jangan sia-siakan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah. Hari ini kita masih hidup, bisa jadi karena diberi kesempatan untuk menambah amal. Sungguh bodoh jika kita terlena oleh usia yang masih muda dan tubuh yang sehat

Bukankah tidak jarang kita menjadi saksi atas kematian seorang pemuda karena kecelakaan, misalnya?

Bukankah tidak luput dari pandangan kita seseorang yang hari ini sehat bugar, kamudian dikabarkan meninggal esok harinya?

Maka kita tidak boleh lalai dari mempersiapkan diri menghadapai sebuah kepastian ini. Yaitu kematian.

Aku, kamu, dia, mereka dan siapapun hanya menunggu giliran

Semoga kita dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah dan menjadi penghuni syurga kelak. Amin

Sunday, 7 May 2017

Ramadhan Produktif dengan Rencana yang Matang



Ramadhan, bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam. Bagi anak-anak, Ramadhan sangat menyenangkan. Ada hal tersendiri yang mereka nantikan dari bulan yang mulia ini. Pada bulan ini mereka bisa menikmati berbagai makanan yang jarang disediakan diluar Ramadhan. Selain itu, mereka juga bisa berlama-lama di masjid dan bermain selama sholat tarawih berlangsung. Ini pengalaman pribadi sewaktu kecil hehehe. Namanya juga anak-anak. Ini bukan suatu kesalahan.
Bagi orang dewasa, Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti karena didalamnya banyak keistimewaan. Segala amalan kebaikan pahalanya dilipatgandakan. Sangat rugi jika ada yang menyia-nyiakan kesempatan meraih pahala dibulan yang istimewa ini.
Sekarang Ramadhan sudah di depan mata. Kerinduan kita pada Ramadhan bisa dilihat dari sejauh mana persiapan yang dilakukan untuk menyambutnya. Namanya rindu, pasti ingin bertemu. Sebelum pertemuan itu tiba, kita akan mempersiapkan segala sesuatunya. Baik persiapan fisik maupun mental dan rohani.
Pengalaman menjalani Ramadhan sebelumnya bisa menjadi acuan. Apa yang sudah berlalu tidak dapat diulang kembali. Akan tetapi, kesalahan karena tidak memanfaatkan Ramadhan tahun kemarin harus diperbaiki jika tahun ini diberi kesempatan bertemu.  

Lalu apa yang sudah kita persiapkan?
Bekal apa yang sudah kita miliki untuk bertemu dengan ia yang dirindukan?
Apa rencana yang akan kita lakukan saat bertemu dengannya?
Jika ada pertemuan, makan pasti ada waktunya untuk berpisah. Lalu cerita apa yang ingin kita tinggalkan setelah berpisah dengan Ramadhan nanti?
Semua jawaban dari pertanyaan diatas harus kita miliki saat ini
Kita bukan lagi anak-anak. Rindu kita pada Ramadhan bukan lagi sekedar karena makanan atau ingin bermain di masjid, tapi lebih dari itu. Banyak hal bermanfaat yang bisa kita lakukan untuk mengisi Ramadhan demi meraih sebanyak-banyaknya pahala.
Ingat, Ramadhan bukan waktu untuk menambah jam tidur. Meski tidurnya orang yang berpuasa dapat bernilai ibadah, tapi ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidur sepanjang hari. Ini namanya rugi, diberi kesempatan bertemu Ramadhan tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Bukankah melakukan kegiatan yang bisa memberi solusi bagi orang lain juga bernilai ibadah?
Sejauh mana persiapan kita saat ini?
Untuk Ramadhan tahun ini saya sudah membuat beberapa agenda sejak dua bulan yang lalu. Dua diantaranya, ingin mengadakan challenge untuk teman-teman di Instagram dan juga rutin menulis di blog minimal tiga hari sekali. Saya sadar agenda ini sangat sederhana, tapi jika tidak direncanakan dengan baik akan sulit untuk dilakukan. Apalagi saat ini saya juga masih bekerja sehingga punya kesibukan lain yang sudah terjadwal.
Satu hal juga yang mesti diingat, jangan sampai agenda yang kita buat malah membuat ibadah wajib dibulan Ramadhan terabaikan. Maka komitmen dengan diri sendiri harus ditanamkan agar rencana bukan sekedar angan-angan yang tidak pernah terealisasi.
Mengapa puasa, shalat, baca qur'an, zakat dan sedekah tidak masuk dalam agenda kali ini?
Bukan tidak masuk, tapi ini sudah menjadi hal yang wajib dan tidak perlu disebutkan. Agenda tersebut harus berlaku sepanjang hari, bulan dan tahun dalam kehidupan kita.
Sudah terifikir agenda Ramadhan kali ini?
Jika belum, segera action. Masih ada waktu beberapa hari untuk mempersiapkan.

Saturday, 8 April 2017

Temukan Alasanmu

Sebelum melakukan sesuatu kita harus punya alasan. Kenapa? Sebab apapun yang kita lakukan pasti ada kendalanya. Tidak selalu mulus sesuai rencana, bahkan tidak jarang banyak hambatan yang membuat kita berhenti. Tentu jika alasan melakukannya tidak ada atau tidak kuat.
Saya memutuskan untuk menulis karena beberapa alasan. Pertama saya orangnya suka membaca, rugi rasanya kalau hobby saya ini tidak dimanfaatkan untuk membuat tulisan yang minimal bisa menyalurkan hobby saya (Membaca tulisan sendiri hehehe), syukur-syukur kalau tulisan saya juga dibaca oleh orang lain dan memberikan manfaat.
Saking rajinnya membaca, dulu saya punya pengalaman ditegur sama wali kelas sewaktu kelas 5 sekolah dasar. Kenapa ditegur, bukankah itu kebiasaan yang bagus? Ceritanya seperti ini. Setiap kenaikan kelas kita diwajibkan membeli buku paket yang akan digunakan selama setahun, waktu itu belum ada program pinjam buku paket dari sekolah seperti sekarang. Saya merasa kurang puas membaca hanya satu buku, maka saya meminta tolong kepada teman yang sudah kelas 6 untuk dipesankan buku kepada wali kelasnya. Kejadian itu diketahui oleh wali kelas  dan saya dipanggil untuk memberikan penjelasan. Bahasanya seperti sedang membahas kasus kriminal ya hehehe. 
Mungkin ada yang bertanya, untuk apa membeli buku paket pelajaran jika hanya ingin membaca? Bukankah banyak buku jenis lain yang bisa dibeli? Iya. Memang banyak, tapi saya tinggal dan sekolahnya di desa, tidak ada toko buku. Waktu itu juga teknologi belum maju seperti sekarang. Belum ada toko buku online. Orang tua saya juga bukan orang yang berpendidikan sehingga mereka tidak mungkin mencarikan saya buku untuk dibaca, tapi bapak saya sangat mendukung keinginan saya dan langsung mengiyakan permintaan saya untuk membeli buku paket kelas 6 ^_^.  

Alasan kedua karena saya orangnya tidak terlalu banyak bicara, kata orang sih pendiam, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Terbukti jika hal ini dtanyakan kepada teman dekat saya mereka tidak akan setuju. Saya tidak banyak bicara bukan karena pendiam, (Kedengaran aneh ya? hehehe) tapi otak saya lebih suka merekam apa yang didengarkan ketimbang memberikan tanggapan balik jika itu tidak benar-benar dibutuhkan. Awalnya saya menganggap kebiasaan tersebut adalah hal yang buruk, bahkan tidak jarang orang yang belum begitu kenal beranggapan kalau saya orangnya sombong.
Dalam diam itu sebenarnya pikiran saya menyimpan banyak hal yang tidak tersampaikan. Saya merasa lebih puas jika menuliskan apa yang menjadi isi pikiran saya. Maka mulailah saya menulis diary, masih teringat dulu waktu sekolah dasar punya beberapa buku diary. Sekarang sudah hilang karena rumah direnovasi dan waktu itu saya posisi sedang tidak di rumah jadi tidak sempat menyimpan semuanya. Isi buku diary saya sebenarnya bukan curhatan, tapi lebih ke apa yang saya pikirkan, kalau curhat apa yang dirasakan ya hehehe. Namanya juga curahan hati.  Biasanya saya menulis cerpen.
Alasan ketiga, saya ingin memberikan manfaat untuk orang lain. Dari buku-buku dan tulisan yang saya baca saya merasakan banyak manfaat. Saya tidak mengenal sebagian besar siapa penulis buku yang saya baca, tapi ia bisa memberikan manfaat bagi saya. Itu juga yang menjadi harapan saya sehingga serius belajar menulis.
Dari alasan di atas saya mulai serius untuk belajar nulis, mengikuti kelas menulis online dan mencari teman-teman yang punya hobby sama untuk saling bertukar pikiran. Tentu dengan harapan suatu hari saya bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat untuk orang lain. 
Setelah serius belajar, ternyata tidak mudah. Dalam perjalan kadang timbul rasa malas, banyaknya pekerjaan lain yang harus dikerjakan. Sekedar informasi, saya seorang apoteker dan saat ini sedang aktif berpraktek di sebuah perusahaan swasta. Meski begitu, saya selalu meluangkan waktu untuk mengeluti hobby menulis setiap hari. Bukan sekedar memanfaatkan waktu sisa tapi memang sudah saya jadwalkan.
Apapun yang kita lakukan saat ini pastikan punya alasan yang kuat dan jelas, agar kendala tidak membuat kita menyerah dan berhenti ditengah jalan.

Friday, 7 April 2017

Sosial Media




Saya kagum dengan mereka yang sudah nyata punya banyak kesibukan tapi selalu punya waktu untuk menyapa orang lain walaupun cuma lewat dunia maya. Ya, memang interaksi di dunia maya melalui sosial media saat ini sudah berkembang sangat maju. Katakanlah ia seolang public figur, punya bisnis dan pasti punya keluarga juga, tapi ia selalu punya waktu untuk sekedar berbagi senyum lewat media sosialnya. 
Sementara ada orang yang jika diperhatikan kesibukannya belum seberapa tapi menghindari media sosial dengan alasan tidak punya waktu. Mungkin ini hanya perbedaan pandangan saja. Si sibuk yang pertama, yang benar-benar sibuk masih bisa bertebaran postingannya di dunia maya karena memang ia menjadikan itu sebagai bagian dari prioritas, merasa membutuhkan itu. Sementara si sibuk yang kedua, kesibukannya masih dipertanyakan tapi tidak punya waktu untuk nangkring di dunia maya bisa jadi itu memang bukan bagian dari rencananya dalam 24 jam 7 hari seminggu 30 hari sebulan dan 365 dalam setahun.
Saya sendiri sebagai orang yang bisa dibilang belum punya kesibukan, ada sih tapi belum sibuk-sibuk bangat, banyak waktu senggang tapi tidak serutin iya yang kesibukan super-super banyak untuk menyapa dan berbagi lewat media sosial. Sebenarnya kadang terbersit dalam diri untuk mencontoh si sibuk yang pertama di atas, tapi seringnya rasa malas membuat diri berada di pihak yang kedua hehehe.

Banyak juga yang beralasan tidak menggunakan sosial media karena banyak sisi negatifnya. Semua orang berhak menilai, tapi menurut saya ini pendapat yang kurang bijak. Persepsi ini muncul bisa jadi karena belum benar-benar terbuka melihat apa yang sekarang terjadi di media sosial. Banyak kisah orang yang menjadi lebih baik karena menemukan teman yang benar dari media sosial. Tidak jarang kita melihat kisah sukses mereka meraih banyak rupiah dari media sosial. Ya, sekali lagi semua tentang persepsi. Meski pun tidak dapat dipungkir bahwa media sosial memang banyak memberikan manfaat negatif. Terutama bagi anak-anak yang kurang pengawasan dari orang tuanya.
Saya pribadi merasa bahwa media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif. Dari sana banyak kita lihat kisah mereka berhasil karena memanfaatkan media sosial dengan baik, bukan hanya sekedar menghabiskan waktu atau berkeluh kesah dengan status yang dishare setiap hari. Perlahan saya mulai mengikuti cara si sibuk yang pertama, meski hanya sekedar share jika menemukan postingan bermanfaat dari orang lain, atau menyalurkan hobby saya dengan menulis hal-hal positif yang mungkin bermnfaat bagi orang yang membaca. Meski apa yang saya  lakukan tapi belum se intens dirinya. Bukan butuh proses, perlahan mengikis sifat malas untuk menjadi lebih bermanfaat.
Saya yakin sekecil apapun hal yang kita bagikan melalui tulisan di media sosial akan memberikan pengaruh bagi orang yang membacanya. Jika apa yang kita bagikan bermanfaat maka orang lain akan terbantu, tapi apabila yang kita bagikan sesuatu yang buruk bisa jadi akan merugikan orang lain. hal ini yang menjadi motivasi saya untuk tetap menulis hal yang bermanfaat.


Wednesday, 5 April 2017

Lilin Harapanku

Terinspirasi dari kisah seorang teman


Hari ini usiaku tepat 27 tahun, sama seperti tahun-tahun sebelumnya aku tidak pernah merayakan hari jadiku karena itu bukan kebiasaan keluarga kami. Sekarang aku sudah menyandang gelar S2 dan bekerja di sebuah instansi pemerintah. Jika aku mengingat masa-masa kecilku ketika masih berusia sepuluh tahunan aku tidak pernah menyangka akan hidup seperti sekarang ini. Semua ini berkat seorang wanita yang wajahnya tidak akan pernah aku lupakan, dia adalah ibuku.
Aku adalah anak yang lahir dengan kondisi prematur, aku dilahirkan pada usia 7 bulan dalam kandungan. Bayi yang lahir dengan kondisi sepertiku biasanya memilki fisik yang tidak terlalu kuat, selain itu karena perkembangan otak yang belum sempurna aku memiliki kelambatan dalam proses belajar di masa kecilku. Masih jelas di ingatanku pada waktu SMP aku adalah anak yang paling terbelakang dalam  pelajaran, baik itu pelajaran membaca terlebih lagi tentang hitung-hitungan. Aku pernah tinggal kelas karena tidak mampu untuk lulus setengah dari semua mata pelajaran. Pada saat itu aku sempat putus asa dan ingin berhenti dari sekolah karena malu kepada teman dan juga guru-guru yang ada di sekolah. Tetapi ibu dengan sabar dan penuh kasih sayang memberikan semangat kepadaku. “Mira, kamu jangan menyerah yah ibu akan selalu membantu kamu belajar agar kamu bisa lulus dan naik kelas tahun depan”  bujuk ibu sambil memelukku erat. “tapi bu, sampai kapan ibu harus mengorbankan waktu istirahat ibu untuk mengajari aku ?, lebih baik aku berhenti dari sekolah bu”. Sambil tersenyum ibu memberikan nasehat yang sampai saat ini masih jelas diingatanku,  “Mira, kamu adalah satu-satunya anak ibu dan ibu akan merasa berdosa jika masa depan kamu tidak lebih baik daripada ibu, kamu harus tetap sekolah dan ibu selalu punya waktu untuk mebantu kamu belajar”. Aku hanya bisa meneteskan air mata mendengar nasehat ibu pada saat itu. Ibu saya adalah seorang guru SD yang terkenal sangat baik kepada siswa-siswanya. Selain harus mengurus keperluanku setiap hari ibu juga harus mengajar untuk mencari nafkah buat kami. Semua itu ibu lakukan seorang diri karena sejak usiaku 5 tahun ayah meninggalkan kami untuk menikah lagi. Semenjak peristiwa itu aku tidak pernah lagi bertemu ayah atau sekedar mandengar kabarnya.
Meskipun ditinggal suami, ibu tidak lantas menjadi wanita yang lemah, ibu terus merawat dan membesarkan aku dengan penuh kasih sayang. ibu terus berjuang untuk membantu aku dalam melanjutkan pendidikanku bahkan sampai masuk universitas. Ketika aku mendaftar untuk masuk kuliah ibu yang waktu itu usianya sudah hampir 60 tahun dan kesehatannya juga mulai terganggu rela antri berjam-jam untuk mendapatkan formulir demi aku. ibu tidak mengizinkan aku ikut antri karena takut jika aku akan pingsan, bahkan kami sempat berdebat sebelum antrian tersebut. “Mira, kamu tunggu ibu disini nak, biar ibu mengambilkan formulir untuk kamu” kata ibu penuh semangat sambil menggenggam tanganku. “tapi bu, biar aku saja yang ikut mengantri, ibu saja yang istirahat” kataku sambil menatap ibu. Dengan nada penuh bujukan ibu mengantar aku ke sebuah bangku di dekat kami. “nak, kamu lihatkan antrian itu sangat panjang dan  ibu tidak ingin melihat kamu harus masuk rumah sakit lagi seperti pada waktu itu hanya karena beridir terlalu lama”. Aku memang pernah di rawat beberapa hari di rumah sakit karena kondisiku drop akibat berdiri selama 2 jam pada waktu orientasi siswa baru di SMA. Sejak peristiwa itu ibu tidak pernah mengizinkan aku untuk berada di luar ruangan terlalu lama sesuai dengan saran dari dokter. “nak, ibu masih sehat, kalau hanya untuk antri seperti ini ibu sanggup, itulah gunanya ibu ada di sini untuk membantu dan menemani kamu nak. Ibu menatapku sambil tersenyum.
Empat tahun lamanya aku menjadi mahasiswa akhirnya aku  dinobatkan sebagai sarjana dengan predikat memuaskan. Ibu sangat bahagia melihat aku memakai pakaian wisuda, karena bahagianya ibu bahkan lupa ia sedang sakit dan butuh istirahat. Malam hari sebelum aku wisuda ibu tidak tidur karena terus menyiapkan segala sesuatu untuk acara syukuran wisuda anak yang sangat dikasihinya, belum lagi paginya ibu harus menemani aku ke kampus untuk pelaksanaan upacara wisuda. Akibatnya kondisi ibu memburuk dan sore hari harus masuk rumah sakit. Aku hanya bisa berdoa melihat kondisi ibu yang begitu lemah, memang setahun yang lalu dokter mengatakan kalau ibu mengalalami gangguan pernapasan, selain itu ibu juga sudah berusia lanjut sehingga kondisi fisiknya semakin lemah. Setelah melaksanakan sholat magrib tiga rakaat aku mendatangi ibu dan mencium tangan dan keningnya, rupanya ibu menyadari kehadiranku. Dengan senyumnya yang khas ibu menatapku sambil menggenggam tanganku. “Mira, maafkan ibu nak, karena telah merusak hari di mana kamu harusnya berbahagia”. aku meraih kursi dari samping dan duduk di depan ibu yang wajahnya tampak begitu cerah meskipun kondisinya sangat lemah, ada ketakutan dalam diriku melihat kondisi ibu seperti itu. “bu, aku yang harus minta maaf karena tidak memperhatikan kondisi ibu”. Dengan derai airmata aku melanjutkan kata-kataku. “selama ini ibu terlalu banyak berkorban, sedangkan aku belum bisa memberikan apa-apa untuk ibu, aku tidak pernah membuat ibu bahagia, aku hanya bisa menyusahkan ibu”.“Anakku hari ini ibu sangat bahagia karena dirimu, kamu sudah menjadi seorang sarjana, ibu bangga dengan semua kerja keras kamu. Ini adalah hadiah terbesar dalam hidup ibu nak”. Ibu terus menatapku tapi tatapannya kini tampak lemah, aku terus meneteskan airmata di depan ibu.“Nak,jangan sedih, ibu tidak ingin melihat kamu menangis, kamu harus tersenyum karena ini hari bahagia dalam hidup kita”. Aku hanya terdiam menatap ibu. “Anakku, setiap manusia itu punya batas usia dan jika hari ini ibu harus meninggalkan kamu, kamu harus tetap semangat untuk melanjutkan hidup. Maafkan ibu karena tidak bisa lagi menemani kamu, maafkan dengan segala kekurangan ibu dalam membimbing kamu. Jangan lupa untuk tetap mendoakan ayahmu agar dia selalu dalam lindungan-Nya”. Malam itu ibu meniggalkan aku dengan penuh ketenangan. Wanita yang selalu memberikan harapan dalam hidupku telah pergi untuk selamanya, tapi harapan itu akan tetap ada di hati ini bagaikan lilin yang memberi cahaya agar aku dapat terus melanjutkan hidup.

Monday, 3 April 2017

Perlahan Tapi Pasti



Dimuat dalam sebuah buku antologi berjudul "Beginilah Cara Tuhan Menjawab Impianku"

Saat membuat tulisan ini aku sedang berada di sebuah kamar kost yang jauh dari orangtua dan keluarga. Di kota yang pertama kali aku datangi setahun yang lalu tepatnya pada bulan Juli 2015. Sebuah kota di Indonesia yang jika namanya disebut kita akan teringat dengan bakpia dan gudeg sebagai makanan khas kota ini, Yogyakarta. Memutuskan untuk merantau dan tinggal jauh dari keluarga tidaklah mudah, rasa rindu dengan orangtua dan keluarga selalu mengisi setiap detik perjalanan dan seolah memaksa untuk segera memesan tiket pesawat dan terbang ke Makassar. Tapi beruntungnya, di tempat ini aku dipertemukan Allah dengan orang-orang yang begitu baik sehingga merasa punya keluarga baru.
Orang Yogyakarta dikenal ramah dan aku telah membuktikannya, hari pertama aku disini dan berangkat kerja dengan jalan kaki karena kebetulan tempat kerjaku jaraknya hanya beberapa meter dengan rumah yang aku sewa, setiap berpapasan dengan warga mereka selalu menyapa dengan khas jawa “monggo” atau sekedar menganggukkan kepala sambil senyum. Aku percaya bahwa tak ada kebetulan di kehidupan ini, semua sudah diatur oleh-Nya termasuk keberadaanku di kota ini.
Sejak SMP aku memang berkeinginan untuk keliling Indonesia, meski saat itu aku belum memiliki akses dan pengetahuan lebih tentang kota-kota di Indonesia selain yang aku baca di buku pelajaran. Tapi itu tidak membuat keinginanku surut. Memasuki masa SMA keinginanku belum terwujud, aku belum bisa kemana-mana. Mungkin belum saatnya, aku meyakinkan diriku. Setelah masa SMA berakhir aku memutuskan untuk kuliah dan memilih Makasar sebagai kota pilihanku, meski belum keluar  pulau tapi setidaknya saat itu aku sudah keluar dari wilayah dengan pergaulan dan bahasa yang sedikit berbeda dengan lingkunganku selama kurang lebih 18 tahun. Inilah pertama kali aku tinggal jauh dari orangtua, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam perjalanan darat. Awal menjalaninya terasa sangat berat, bulan pertamaku di kota Makassar bertepatan dengan ramadhan yang tahun-tahun sebelumnya aku jalani bersama keluarga di rumah.
Berawal dari masa kuliah perlahan-lahan keinginanku semasa SMP mulai terwujud, dari sinilah aku bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah di sulawesi bahkan ada yang dari luar pulau. Melalui kegiatan kampus aku bisa mengunjungi beberapa tempat yang baru, beberapa daerah di Sulawesi dan juga diluar Sulawesi. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan profesi Apoteker aku mendapat tawaran untuk bekerja diluar Sulawesi, sebuah kota yang saat ini menjadi saksi lahirnya tulisan ini. Di tempat ini banyak pelajaran yang aku dapatkan, mulai dari adat istiadat, bahasa dan cara bergaul. Awal menjalani pekerjaan aku sangat terkendala masalah bahasa, apalagi jika bertemu dengan pasien lanjut usia yang kurang fasih menggunakan bahasa Indonesia. Meski mengalami beberapa kesulitan, aku tidak menjadikannya sebagai hambatan, aku mengingat kembali impian masa SMPku, keinginan untuk keliling Indonesia dan mengenal budayanya. Ya, mungkin inilah jalan yang diberikan Allah untuk menjawabnya meskipun dengan cara yang berbeda.
Jika mengingat kembali masa kecilku, seorang anak desa yang tidak mengenal teknologi. Lahir dari keluarga yang sangat sederhana dengan profesi sebagai petani sehingga masa kecilku lebih banyak dihabiskan di sawah dan kebun, sangat kontras dengan lingkunganku saat ini. Tapi kesederhanaan harus tetap menjadi bagian dari hidupku. Itulah pesan orangtua yang selalu aku ingat dan berusaha menerapkannya.
Meski kondisi saat ini bukanlah menjadi keinginanku semasa SMP, impianku bukan jadi perantau, yang aku mau adalah keliling Indonesia untuk menikmati keindahan setiap kotanya dan bertemu dengan penduduknya yang terdiri atas berbagai macam suku. Setidaknya seperti itulah yang aku ketahui tentang Indonesia dari buku-buku yang penah aku baca semasa SMP. Tapi aku tidak putus asa, aku percaya bahwa ini jalan yang ditentukan oleh Allah untuk perlahan-lahan mewujudkan impianku.